Karya Sastra periode 30-an “Roman Layar Terkembang”

Roman ini merupakan karangan dari Sutan Takdir Alisjahbana yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di Jakarta. Pada tahun 2005 merupakan cetakan ke-37, berisi 176 halaman.

Sutan Takdir Alisjahbana (STA) lahir di Natal, Sumatera Selatan 11 Februari 1908. Beliau tokoh pembaharu, sastrawan, dan ahli dalam tata bahasa Indonesia. STA menamatkan sekolah di HIS, Bengkulu pada 1921. Kemudian melanjutkan ke Kweekschool, Bukittinggi. Selanjtunya  dia meneruskan HKS di Bandung pada 1928, meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta pada 1942, dan menerima Dr. Honoris Causa dari Universitas Indonesia (1979) dan Universitas Sains Malaysia, Penang, Malaysia (1987).

Sesuai dengan karakteristik, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang berkembang di masyarakat. Pada saat itu bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dengan bercampur melayu sedikit, sehingga masih mudah dipahami oleh pembaca.  Masih banyak pemakaian partikel “nya” dan “lah” pada akhir kata.

“Maria menuju kepada tempat sepeda. Disandarkannya dan diambilnya tasnya maka pergilah ia kearah beberapa orang temannya yang sedang duduk bersenda gurau di atas sebuah bangku-bangku.”

Tema dalam roman ini mengangkat persoalan wanita atau emansipasi wanita. Penokohan digambarkan jelas dalam percakapan maupun paparan penulis. Dalam Novel ini diceritakan Tuti dan Maria merupakan dua saudara yang memiliki kepribadian yang berbeda. Tuti dikenal sebagai seorang yang lurus hatinya, kukuh pendiriannya, tidak suka gelisah dalam bekerja, dan berjuang untuk cita-citanya yang menurut pikirannya mulia dan luhur. Sedangkan Maria dikenal sebagai seorang yang riang, mudah kagum, mudah memuji, dan mudah tertawa. Kedua sifat ini bagaikan siang dan malam.

Suatu ketika mereka mengunjungi akuarium untuk melihat ikan-ikan, mereka bertemu seorang lelaki yang bernama yusuf. Yusuf  merupakan putra Demang Munaf di Martapura,  Sumatra Selatan. Dia sekarang belajar di Sekolah Tabib Tinggi. Semenjak pertemuan ini Yusuf sering berkunjung ke rumah Maria. Ada rasa gaib yang mengganjal dihatinya. Terutama pandangannya terhadap Maria.

Masih terdapat istilah Belanda, seperti nama sekolah, profesi. Hal ini merupakan pengaruh dari latar belakang pendidikannya. STA cenderung mengambil latar tempat sesuai dengan yang ia ketahui atau alami.  “H.B.S. Carpentier Alting Stichting, sekolah kweekschool, ambtenaar.”

Saat Maria berada di Bandung, Yusuf menyusulnya kesana. Kedatangan Yusuf, membuat hati Maria senang. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Meskipun hal tersebut tidaklah penting. Berbeda ketika Yusuf berbincang dengan Tuti. Topik pembicaraannya membuat Yusuf beradu pendapat dan berpikir kritis. Tuti lebih suka bertukar pikiran daripada berbincang pada hal yang tidak penting.

Yusuf mengajak Maria berjalan-jalan ke air terjun Dago. Betapa senangnya dua pemuda ini bisa menikmati keindahan alam berdua. Dalam kesempatan itu pula Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria. Maria hanya tertunduk dan diam. Dia terharu mendengar ucapan yusuf. Maria menerima cinta Yusuf. Dari kejadian ini akhirnya mereka berdua bertunangan.

Dalam karakteristik disebutkan karya sastranya bersifat romantisme. Pada roman ini ada pula unsur romantisme. “Tak dapat lagi ia meneruskan ucapannya sebab Yusuf menutupkan bibirnya ke atas bibir Maria. Dalam curahan cinta pertama yang menggemetarkan badan mereka yang muda remaja itu, menjauh mengaburkan keinsafan akan tempat dan waktu.”

Semenjak bertunangan dengan Yusuf, Maria sering melamun apabila sendirian. Keadaan ini membuat Tuti menasihati adiknya agar tidak menjadi perempuan yang lemah yang mau saja diperbudak oleh lelaki. Namun Maria dengan lantang menjawab bahwa Ia sepenuhnya mencintai Yusuf dan segala hidupnya akan diserahkan pada Yusuf. Belum lagi Maria menyinggung Tuti dengan mengatakan bahwa bagi Tuti cinta seperti perdagangan yang harus ditimbang baik buruknya. Pantaslah jika pertunangannya dengan Hambali dulu putus. Mendengar ucapan dari Maria, Tuti benar-benar marah dan kesal. Hatinya teriris sembilu.

Bagi Tuti lebih baik tidak bersuami seumur hidup jika hidupnya harus diatur, cita-citanya harus dilenyapkan, hanya menjadi perempuan yang mengurus dapur melulu. Pikiran ini menjadi dasar bahwa sampai sekarang Tuti belum menikah.

Dalam akhir-akhir ini, Maria terjangkit penyakit Malaria. Badannya panas. Kerjanya di rumah hanyalah tidur untuk mengistirahatkan diri. Ada kekhawatiran pada diri Yusuf dan Tuti tentang penyakit Maria, belum lagi tiba-tiba Maria muntah darah. Segeralah Yusuf memanggilkan dokter untuk Maria. Setelah diperiksa disarankan oleh dokter untuk opname di rumah sakit.

Seminggu di rumah sakit, keadaan Maria belum berangsur pulih. Malahan penyakitnya bertambah parah saja. Sehingga dokter menyarankan membawa Maria ke Pacet. Awalnya tidak tega akan keadaan Maria, tetapi demi kesembuhan Maria ,akhirnya bapak, Tuti, dan Yusuf setuju dengan usulan dokter. Tuti rela meninggalkan kongres demi menjaga Maria, begitupun Yusuf, meninggalkankan kegiatan Pemuda Barunya. Selama ini pula seringkali Yusuf dan Tuti berjalan berdua sehingga timbul perasaan lain di hati keduanya.

Dua bulan sudah Maria dirawat. Belum ada perkembangan yang menunjukkan Maria akan sembuh. Kekhawatiran ini dirasakan oleh Maria sendiri dan juga Bapaknya, Yusuf, dan Tuti. Namun, tidak jenuh mereka selalu membujuk Maria akan sembuh dan bisa menikmati dunia kembali.

Di pagi yang cerah, ketika hendak berpisah dengan Tuti dan Yusuf. Maria mengatakan bahwa nikmat benar hidup di dunia ini. Mendengar ucapan Maria itu, Tuti dan Yusuf tiada menjawab. Mereka terdiam tidak berkata-kata. Kemudian Maria melanjutkan pembicaraannya bahwa dirinya akan tenang di akhirat bila melihat Tuti dan Yusuf menjalin cinta. Sebagaimana halnya Maria menjalin cinta dengan Yusuf. Itulah permintaan terakhir dari Maria. Setelah itu Maria menghembuskan nafas terakhirnya.

Pada akhirnya Yusuf dan Tuti menjalin hubungan serta hendak melangsungkan perkawinan. Seminggu sebelumnya, keduanya mengunjungi makam Maria yang berada di dekat Pacet untuk meminta doa restu. Terdiam di makam Maria. Nyata dihadapannya makam orang yang mereka cintai.

Roman tersebut menceritakan secara rinci kejadian yang ada. Seperti halnya pada kegiatan berbincang-bincang. Dalam roman tersebut apa yang dibicarakan, siapa saja yang berbicara, topik yang dibicarakan, penggambaran latarnya pun jelas. Selain itu juga dalam kegiatan penutupan kongres Pemuda Baru. Pada awal acara hingga drama yang diceritakan terpapar jelas. Jadi penulis betul-betul menulis rinci setiap kejadian yang dilakukan tokoh.

Banyak menggunakan kiasan dalam menggambarkan latar keadaan suasana seperti

“Dari celah-celah kembang Flamboyan yang merah marak turun melandai ke tanah, cahaya matahari halus-halus dan panjang-panjang, laksana hujan yang jatuh di tiup angin, menyirami tanah kuning kelabu dengan air emas.”

Amanat yang penulis berikan meliputi emansipasi wanita. Secara tidak langsung penulis mengungkapkan peran wanita modern yang tidak hanya sebagai ibu rumah tangga. Amanat ini digambarkan melalui tokoh Tuti. Cerita ini layak dibaca oleh wanita terutama yang memerlukan adanya perubahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s