PEREMPUAN DI DEPAN GANG

Perempuan itu mengurai rambutnya. Dia berdandan amat rapi dan cantik. Alisnya tebal, matanya memakai eyeliner dan eyeshadow. Pipinya diberi kemerah-merahan. Rambutnya yang lurus tergerai di depan bahunya. Dia memakai kemeja kuning dan rok hitam. Tubuhnya yang langsing menambah ayu penampilannya. Anehnya, dia selalu menunggu di depan gang setiap pukul 10.00-12.00. Setiap hari dia melakukannya dengan penampilan yang selalu cantik bahkan semakin hari semakin menawan.

Kebiasaannya sudah dimaklumi oleh banyak warga di kampungnya. Warga kampung bahkan kasihan melihat tingkahnya yang tidak kunjung berhenti. Tidak ada hal yang dilakukannya di depan gang. Dia hanya berdiri dan menikmati pemandangan sekitar. Dia tidak gila bahkan dia selalu menyapa setiap orang yang lewat di depannya. Dia mengobrol dengan banyak orang yang mengajaknya. Tepat pukul 12.00, dia pulang dengan wajah yang sangat biasa saja. Tidak ada hal lain yang dikhawatirkan. Seolah dia telah melakukan beragam ritual yang menenangkan hatinya.

Seminggu yang lalu, aku mulai berkunjung ke kampungnya, tepatnya ke rumah sepupuku. Awalnya tidak ada yang perlu diherankan saat melihatnya menunggu di depan gang. Bahkan aku sempat berkenalan dengannya. Dia begitu menyenangkan dan ramah. Kecantikannya yang mempesona membuat siapapun yang melihatnya pasti akan tertarik untuk menyapanya.

“Sedang menunggu siapa?”

Dia terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Wajahnya berpaling dari pandanganku. Matanya menatap ke langit-langit, wajah teduhnya menjadi sedikit muram, segera aku mengganti topik supaya tidak ada suasana yang menjadikan dia sedih. Dia hanya menjawab dengan ulasan senyum tipis.

“Maaf, jika aku menyinggungmu.”

“Tidak apa-apa.”

Aku mengganti topik pembicaraan dan tidak melanjutkan pertanyaan yang sepertinya sensitif di hatinya. Karena sudah merasa cukup, aku berpamitan untuk pulang duluan dan membiarkannya berdiri di depan gang sendirian.

Dalam perjalanan pulang, ada banyak pertanyaan yang bersarang di benak. Siapa yang dia tunggu? Untuk apa dia menunggu? Apakah dengan menunggu dia bahagia? Pertanyaan itu tidak sempat terlontar. Aku bahkan tidak berani menanyakannya. Melihatku mengatakan ‘Sedang menunggu siapa?’ sudah membuat wajah cantiknya berubah muram.

Seperti perempuan lainnya, dia selalu memesan bakso dan es degan yang ada di seberang. Dia tidak bosan meskipun setiap hari menyantap itu. Bahkan tanpa memesan pun si tukang bakso dan penjual es degan selalu menyiapkan. Terkadang malah tanpa membayar. Hampir setiap warga kampung sudah mengetahui ritual rutin yang dilakukan perempuan itu.

Seminggu berikutnya, ada rasa penasaran yang hinggap di hatiku. Pertanyaan ‘Sedang menunggu siapa?’ menjadi pertanyaan yang paling penting. Setiap hari aku lewat di depannya dan selalu dia dalam posisi yang sama. Aku mengira dia sudah kelewat normal. Mungkin ada saraf yang putus diotaknya. Bagaimana mungkin dia bertahan melakukan hal yang sama setiap hari. Bukankah begitu membosankan? Karena rasa penasaran, aku memberanikan diri bertanya kepada sepupuku.

“Semua warga kampung sudah tahu, siapa yang ditunggunya.”

Aku tersentak kaget, berarti ini sudah bukan rahasia lagi.

“Namanya Ratih, dia anak Pak Shobari.”

“Lalu?”

Aku bahkan sudah tidak sabar agar dia segera menceritakan kejadian apa yang telah menimpa perempuan itu. Sepupuku malah membuatku jengkel dengan memperlambat ceritanya. Dia menyuruhku mengambilkan ini itu. Tetapi demi menjawab rasa penasaran, aku turuti saja permintaannya. Aku duduk di sampingnya dengan sikap yang serius. Seperti sedang mendengarkan wawancara dari seorang narasumber ulung.

“Dia gadis yang manis, ramah, dan sopan. Dia adalah perempuan yang dipuji di kampung ini karena kecantikannya.” Kata sepupuku.

“ Kejadiannya bermula tiga bulan yang lalu. Dia mulai menunggu di depan gang sampai pukul 12.00.  Kebiasaan ini menjadi aneh setelah seminggu dia melakukan hal yang sama. Orang tuanya menyadari keadaan dia bahkan membiarkannya melakukan apa yang diinginkan. Banyak dugaan-dugaan yang menyatakan bahwa dia sudah kelewat normal. Tetapi anehnya, dia sadar apa yang dilakukannya. Pernah suatu ketika, orang tuanya mengajaknya pergi dari pagi, agar dia lupa akan ritual itu, tetapi ternyata gagal. Seperti biasanya, jam 10.00 dia harus sudah ada di gang. Dia bahkan tidak ingin terlambat. Meskipun orang yang ditunggunya tidak akan datang.” Sambung sepupuku.

“Siapa yang ditunggunya?” tanyaku memotong ceritanya.

Rasanya sudah tidak sabar untuk segera tahu alasan perempuan itu melakukan hal demikian. Betapa sia-sia hidupnya dihabiskan hanya untuk menunggu seseorang yang menurut sepupuku tidak akan datang. Sepupuku meneguk air yang ada di depannya dan membiarkanku dilumuri rasa penasaran. Dia menghela napas dan matanya berkeliaran kemana-mana. Aku segera menepuk pundaknya agar dia segera melanjutkan ceritnya. Tampaknya dia menggodaku yang sedang penasaran.

“Orang yang ditunggunya tidak akan pernah datang. Orang itu adalah calon suaminya.”

“Lantas? Mengapa dia harus menunggu? Apakah calon suaminya kabur?” tanyaku.

“Sudah hampir satu tahun lebih, dia menjalin hubungan dengan lelaki itu. Lelaki itu, mulai meminangnya sekitar 4 bulan yang lalu. Mereka berdua adalah sepasang kekasih yang mesra dan cocok. Orang kampung memuja keduanya sebagai pasangan yang sangat serasi. Wajah lelaki itu tampan dan bersih. Perawakannya tinggi, rambutnya rapi dan bola matanya besar. Menurut orang kampung, sepadan bila keduanya adalah sepasang kekasih. Betapa beruntungnya kedua sepasang kekasih itu dipertemukan dengan orang yang sepadan. Selain itu, lelaki itu memiliki kehidupan dan pekerjaan yang berkecukupan. Lelaki itu sering bertandang ke rumahnya.” Sambung sepupuku.

Sebelum melanjutkan cerita, dia memperbaiki posisi duduknya. Dia meneguk air kembali. Aku melihat ada kesedihan dan rasa iba saat dia bercerita. Mungkin saja, sepupuku merasa tidak harus menceritakan hal ini kepadaku. Aku tetap memaksanya untuk bercerita lebih detail. Dia bahkan melirik keadaan sekitar.

“Aku kasihan melihat Ratih. Dia seharusnya tidak melakukan hal itu. Dia layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Banyak sekali lelaki yang ingin meminangnya, tetapi apalah daya, dia tetap menunggu calon suaminya. Padahal dia tahu, calon suaminya tidak akan kembali. Seminggu setelah keluarga lelaki meminangnya, lelaki itu mengunjungi Ratih. Seperti saat berpacaran, sepasang kekasih itu selalu bertemu di depan gang. Mereka menghabiskan waktunya dengan mengobrol dan menikmati bakso dan es degan yang ada di jalan seberang. Namun, nasib berkata lain, ketika menyebrang jalan, keduanya tertabrak oleh pengendara mobil yang berkecepatan tinggi. Tubuh calon suaminya terpental 2 meter dari tempat semula. Kepalanya mengucurkan banyak darah. Calon suaminya terkapar. Sedangkan Ratih mengalami luka serius di tangan kirinya. Ratih masih sadar ketika dibawa ke rumah sakit. Orang-orang yang ada segera menghubungi ambulance dan membawa keduanya ke rumah sakit. Sepertinya, Allah masih memberi kesempatan hidup pada Ratih. Dia selamat dari kecelakaan itu meskipun kondisinya belum membaik. Sedangkan calon suaminya, dia meninggal ketika perjalanan menuju rumah sakit.”

Aku melihat ada air bening di sudut matanya. Tampaknya, kejadian itu sangat pahit dan membuat warga kampung enggan berkomentar apa-apa termasuk sepupuku. Dia memahami betul betapa terpukul hati perempuan itu. Dia kehilangan calon suaminya. Rasa penasaranku sudah terjawab. Aku benar-benar tidak tega mendengar apa yang menimpa perempuan itu. Batinnya sungguh tersiksa. Dia bisa saja tersenyum kepada orang, tetapi kejadian itu, membuatnya tidak akan pernah lupa.

“ Aku yakin, sekarang kamu mengerti mengapa dia melakukan penantian. Hati Ratih, remuk redam mendengar calon suaminya meninggal. Batinnya tersiksa dan dia hanya terpaku dan terdiam di rumahnya selama satu minggu. Semangat hidupnya luntur. Banyak orang yang mencoba menghiburnya. Memberikan dorongan agar dia tetap hidup seperti biasa dan menerima kenyataan yang ada di depannya. Selama seminggu pula, dia terbaring di kamarnya dengan tatapan kosong. Dia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi. Tubuhnya tampak kurus. Matanya sembab, penampilannya tidak terurus, dan tatapannya kosong. Sudah tidak ada air mata yang dapat menbanjiri pipinya. Mungkin berkat doa banyak orang, seminggu setelahnya, senyumnya mulai terlihat. Orang tuanya bahagia melihatnya bisa tersenyum kembali. Ketika dia mulai berdandan rapi dan keluar rumah, orang tuanya membiarkannya. Dipikirnya Ratih akan bertandang ke rumah temannya. Tetapi yang didapatinya, Ratih menunggu di depan gang. Dia merasa, calon suaminya selalu berkunjung ke tempat itu, meskipun hanya sekedar bayangan. Kejadian itu, dianggap wajar sehari dua hari. Semua mulai resah ketika sudah seminggu dia melakukan hal yang sama. Bahkan hingga sekarang ini, menginjak tiga bulan. Orang-orang di kampung kami, menyadari bahwa Ratih sangatlah terpukul. Ketika orang tuanya bertanya dan memberi nasihat, dia tidak bereaksi apa-apa selain menjawab ‘ aku melihat calon suamiku selalu mengunjungiku setiap hari.’ Orang tuanya hanya bisa menitikkan air mata melihat keadaan Ratih. Tetapi aku kagum dengan sikapnya yang dianggap tidak wajar. Dia mampu memberikan senyum kepada banyak orang, meskipun hatinya sendiri remuk serta batinnya yang benar-benar tersiksa karena terperangkap dalam kenangan indah bersama calon suaminya.”

Ada rasa iba dihatiku. Aku ingin memperbaiki keadaannya dan kualitas hidupnya. Sebisa mungkin, dia tidak melakukan hal bodoh itu. Betapa kasihannya dia jika sampai tua pun dia menunggu kekasihnya. Bagaimana dia bisa hidup jika dia melakukan hal demikian. Tetapi saat ini, aku tidak tahu bagaimana caranya mengubah mindset hidupnya. Aku yakin perlu ada kesabaran ekstra dan perenungan diri. Dia perlu meditasi.

Sudah hampir dua minggu aku menginap di rumah sepupuku. Tinggal menunggu besok aku harus pergi dari kampung itu. Aku ingin melakukan hal yang berguna setidaknya untuk Ratih. Dia memang orang yang baru aku kenal. Kepedulianku terhadap kualitas hidupnya sangat penting. Menurutku, dia pantas mendapatkan ganti yang lebih baik. Kekasihnya boleh saja dibiarkan hidup di dalam separuh hatinya, sedangkan separuh yang lain, dibukanya untuk orang lain.

***

Keesokkan harinya, aku menunggu sampai pukul sepuluh. Aku berada lebih awal dari kedatangannya. Setelah dia datang, aku menyapanya, mengajak ngobrol ringan, dan bercanda sebentar sambil menungu angkot datang.

“Ini untuk kamu. Semoga kamu tidak salah paham terhadap maksudku.” Ucapku sambil menyodorkan surat itu kepadanya.

“Baiklah, itu angkotku sudah datang, aku pamit dulu. Sampai berjumpa lagi.” Sambungku sambil berpamitan dan mengayunkan tangan untuk membuat angkotku berhenti.

Dari dalam angkot aku melihatnya membuka surat itu. Aku hanya berharap dia menyadari bahwa tindakannya perlu dihentikan dan dia memulai lembar baru dalam hidupnya. ***

Isi surat:

“Semalam, aku menemui calon suamimu di mimpi. Dia menitipkan pesan, agar kau tidak menunggunya lagi. Dia ingin melihatmu bahagia bersama orang lain. Biarkan cintanya terkubur di separuh bagian hatimu dan separuhnya lagi, beri kesempatan dirimu untuk hidup berbahagia bersama orang lain. Janganlah menunggu seperti ini, karena dia sudah menunggumu di surga kelak.”

Dari kejauhan, aku melihat dia beranjak dari gang itu. Bayangannya sudah tidak terlihat. Aku berharap dia tidak bersembunyi sejenak, tetapi memang menyadari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s